Kemajuan membaca
Ikuti panduan langkah demi langkah
Gunakan lompatan cepat untuk berpindah antar bagian dan pertahankan posisi Anda saat membaca.
bagian saat ini: —
Kalau orang tua yang membiayai dan menjadi tuan rumah pernikahan, kalimat pembuka undangan harus mencerminkan peran itu dengan hormat dan sesuai adat keluarga. Artikel ini memberi contoh kalimat siap pakai untuk berbagai situasi — kedua orang tua, satu pihak saja, orang tua bercerai, hingga gaya adat dan agama — supaya Anda tinggal menyesuaikan nama dan gelar.
Kenapa Kalimat “Menjadi Tuan Rumah” Itu Penting
Di banyak keluarga Indonesia, siapa yang “mengundang” dalam kartu undangan bukan sekadar formalitas — itu menunjukkan siapa yang secara adat dan finansial bertanggung jawab atas acara tersebut. Dahulu, hampir selalu orang tua mempelai wanita yang tercantum sebagai penyelenggara karena secara adat pihak wanita yang menyelenggarakan resepsi. Namun sekarang, dengan banyak pasangan yang membiayai sendiri atau berbagi biaya dengan kedua keluarga, kalimat pembuka undangan pun berubah mengikuti siapa yang benar-benar menjadi tuan rumah. Menuliskan nama orang tua dengan benar juga menjadi bentuk penghormatan yang akan diingat tamu, terutama kerabat yang lebih tua dan menjunjung tinggi tata krama keluarga.
Format Baku: Kedua Orang Tua Menjadi Tuan Rumah Bersama
Ini format paling umum dipakai di Indonesia, baik untuk acara Muslim, Kristen, maupun sekuler. Contoh kalimat pembuka: “Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menghadiri acara pernikahan putra-putri kami: [Nama Mempelai Wanita] dengan [Nama Mempelai Pria], putra dari Bapak [Nama Ayah Pria] dan Ibu [Nama Ibu Pria], serta putri dari Bapak [Nama Ayah Wanita] dan Ibu [Nama Ibu Wanita].” Versi lebih ringkas yang sering dipakai untuk undangan cetak modern: “Bapak [Nama Ayah Wanita] & Ibu [Nama Ibu Wanita] beserta Bapak [Nama Ayah Pria] & Ibu [Nama Ibu Pria] mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i pada pernikahan putra-putri kami.” Pastikan urutan nama konsisten — biasanya pihak wanita disebut lebih dulu dalam tradisi Indonesia, meskipun ini bisa disesuaikan bila keluarga pria yang lebih dominan menjadi tuan rumah.
Jika Hanya Satu Pihak Orang Tua yang Menjadi Tuan Rumah
Ada kalanya hanya orang tua mempelai wanita, atau hanya orang tua mempelai pria, yang membiayai dan menyelenggarakan seluruh acara — misalnya karena alasan lokasi (acara diadakan di kampung halaman salah satu pihak) atau kesepakatan keluarga. Contoh kalimat: “Bapak [Nama] dan Ibu [Nama] mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menghadiri pernikahan putri kami, [Nama Mempelai Wanita], dengan [Nama Mempelai Pria], putra dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama].” Perhatikan bahwa meski hanya satu keluarga yang menjadi tuan rumah, nama orang tua pihak lain tetap dicantumkan sebagai identitas mempelai, hanya saja tanpa embel-embel “mengundang”. Ini menjaga kesopanan tanpa menghilangkan fakta siapa penyelenggaranya.
Menyesuaikan dengan Adat: Jawa, Batak, Sunda, dan Minang
Setiap adat punya kebiasaan tersendiri dalam menuliskan tuan rumah undangan. Dalam adat Jawa, sering digunakan bahasa yang lebih halus seperti “Kanjeng Bapak/Ibu” untuk keluarga yang dihormati, atau frasa “Mangayubagyo dhumateng...” pada undangan berbahasa Jawa krama. Adat Batak biasanya mencantumkan marga secara lengkap dan sering menyertakan pihak keluarga besar (tulang, hula-hula) sebagai bagian dari yang “mengundang”, mencerminkan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu. Adat Sunda umumnya memakai kalimat lembut seperti “Bapa/Ibu ... ngahaturkeun uleman” sebelum nama tamu. Sementara adat Minang, karena sistem matrilineal, sering menempatkan nama ibu atau mamak (paman dari pihak ibu) sebagai penyelenggara utama, bukan hanya ayah. Kalau keluarga Anda memegang adat kuat, konsultasikan kalimat pembuka ini dengan tetua keluarga sebelum dicetak — kesalahan urutan gelar atau marga bisa dianggap tidak sopan oleh kerabat yang lebih senior.
Saat Orang Tua Bercerai atau Sudah Menikah Lagi
Situasi ini butuh kehati-hatian ekstra supaya tidak ada pihak yang merasa dikesampingkan, sekaligus tetap mencerminkan siapa yang benar-benar menanggung biaya acara. Jika kedua orang tua kandung tetap ingin dicantumkan meski sudah bercerai, biasanya nama keduanya ditulis terpisah tanpa kata “dan” yang menyatukan, misalnya: “Ibu [Nama Ibu] dan Bapak [Nama Ayah]” dicantumkan pada baris berbeda. Jika salah satu orang tua sudah menikah lagi dan pasangan barunya turut membiayai serta berperan aktif membesarkan mempelai, nama tersebut bisa disertakan dengan sebutan yang netral seperti “beserta keluarga”. Untuk contoh kalimat lengkap sesuai berbagai skenario perceraian, silakan lihat kata-kata undangan pernikahan untuk orang tua yang bercerai yang membahas format detail per situasi, termasuk saat kedua orang tua menikah lagi atau saat salah satu sudah tiada.
Menyesuaikan Gaya Bahasa: Formal, Islami, atau Modern Santai
Meski orang tua menjadi tuan rumah, gaya bahasa yang dipakai tetap bisa disesuaikan dengan karakter keluarga dan acara. Untuk acara formal di gedung, kalimat baku dengan gelar lengkap (Bapak/Ibu/Haji/Hajjah) lebih cocok. Untuk pernikahan Islami, biasanya ditambahkan kalimat pembuka seperti “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” dan penutup doa. Namun jika acara digelar santai di outdoor atau backyard dengan konsep intimate wedding, orang tua yang menjadi tuan rumah tetap bisa disebut dengan gaya lebih hangat dan personal, misalnya “Dengan penuh sukacita, kami — [Nama Ayah] & [Nama Ibu] — mengundang Anda untuk merayakan hari bahagia putri kami.” Kalau Anda ingin melihat lebih banyak variasi kalimat yang tidak terlalu kaku, kata-kata undangan pernikahan kasual bisa jadi referensi tambahan untuk memadukan nada santai dengan tetap menyebutkan peran orang tua sebagai penyelenggara.
Menambahkan Unsur Doa dan Religi Sesuai Peran Orang Tua
Banyak keluarga ingin menyisipkan doa sebagai bagian dari kalimat pembuka, baik sebagai ucapan syukur maupun harapan restu untuk pernikahan yang akan digelar. Ini biasa diletakkan sebelum atau sesudah kalimat “mengundang”, misalnya ayat pendek, hadits tentang pernikahan, atau doa keselamatan dalam tradisi Kristen dan Katolik. Jika Anda belum yakin doa mana yang cocok untuk agama dan adat keluarga, kumpulan doa pernikahan bisa membantu memilih kalimat doa yang sesuai konteks acara — baik untuk pembukaan undangan, sesi pemberkatan, maupun bagian penutup buku acara.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Pertama, jangan lupa mencantumkan gelar dengan konsisten — kalau ayah mempelai wanita ditulis “Bapak H. [Nama]”, pastikan gelar serupa juga dicek untuk pihak pria agar tidak terkesan timpang. Kedua, hindari salah eja nama, terutama nama dengan ejaan lama atau marga yang panjang — ini kesalahan yang paling sering dikeluhkan tamu senior. Ketiga, jangan mencampur dua format sekaligus (misalnya setengah formal setengah santai) karena akan terlihat tidak matang secara desain maupun bahasa. Keempat, kalau ada anggota keluarga yang sudah meninggal namun ingin tetap disebutkan sebagai bentuk penghormatan, gunakan frasa umum seperti “(Alm.)” atau “(Almh.)” sebelum nama, bukan dihilangkan begitu saja karena bisa dianggap tidak menghormati mendiang. Kelima, pastikan urutan pihak wanita dan pria konsisten di seluruh materi cetak — undangan, seserahan, hingga backdrop pelaminan — supaya tidak membingungkan tamu maupun vendor dekorasi.
Menyusun Kalimat dengan Bantuan Alat Digital
Menyusun kalimat undangan yang tepat untuk banyak skenario keluarga memang memakan waktu, apalagi kalau harus menyesuaikan adat, agama, dan situasi keluarga sekaligus. Anda bisa mencoba alat kata-kata undangan pernikahan dari Wedding Seat untuk mendapatkan draf kalimat siap pakai berdasarkan siapa yang menjadi tuan rumah, gaya bahasa yang diinginkan, dan detail keluarga Anda — tinggal disesuaikan sedikit sebelum dikirim ke percetakan atau vendor undangan digital.
Tanya Jawab
Apakah harus mencantumkan nama kedua orang tua meski hanya satu pihak yang membiayai acara?
Bagaimana jika kedua mempelai yang membiayai sendiri, apakah orang tua tetap dicantumkan sebagai tuan rumah?
Apakah urutan nama keluarga wanita harus selalu di depan?
Bagaimana menuliskan gelar keagamaan seperti Haji atau Pendeta dengan benar?
Apakah kalimat undangan harus berbeda untuk resepsi adat dan resepsi modern di gedung?
Ingin menyusun kalimat undangan yang tepat tanpa bolak-balik revisi? Coba buat draf kata-kata undangan pernikahan Anda secara gratis di Wedding Seat sekarang. alat kata-kata undangan pernikahan Wedding Seat
Lanjutkan perencanaan
Pindah ke topik perencanaan berikutnya
Lompat antar topik terhubung untuk membangun jalur perencanaan yang lebih kuat.
